|

Manasik Haji ala An Noor Ngawi

Infongawi.com – NGAWI : Allahu Akbar…, Allahu Akbar…, Orang-orang Arab pada zaman Jahiliah telah mengenal ibadah haji ini yang mereka warisi dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perubahan disana-sini. Akan tetapi, bentuk umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, sa’i, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya saja pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya.

Untuk itu, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan apa-apa yang telah sesuai dengan petunjuk syara’ (syariat), sebagaimana yang diatur dalam al-Qur’an dan sunnah rasul.  Latar belakang ibadah haji ini juga didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh nabi–nabi dalam agama Islam, terutama Nabi Ibrahim. Ritual Thawaf didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh umat-umat sebelum Nabi Ibarahim.

Ritual Sa’i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah agak tinggi di sekitar Ka’bah yang sudah menjadi satu kesatuan Masjid Al Ihram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri kedua nabi Ibrahim ketika mencari susu untuk anaknya Nabi Ismail. Sementara wukuf di Arafah adalah ritual untuk mengenang tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi, yaitu asal mula dari kelahiran seluruh umat manusia, seperti yang diulas dari berbagai sumber..

Berikut adalah kegiatan utama dalam ibadah haji berdasarkan urutan waktu:

  • Sebelum 8 Zulhijah, umat Islam dari seluruh dunia mulai berbondong untuk melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah.
  • 8 Zulhijah, jamaah haji bermalam di Mina Pada pagi 8 Zulhijah, semua umat Islam memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbyah. Jamaah kemudian berangkat menuju Mina, sehingga malam harinya semua jamaah haji harus bermalam di Mina.
  • 9 Zulhijah, pagi harinya semua jamaah haji pergi ke Arafah Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf yaitu berdiam diri dan berdoa di padang luas ini hingga Maghrib datang. Ketika malam datang, jamaah segera menuju dan bermalam Muzdalifah.
  • 10 Zulhijah, setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan. Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, jamaah bisa Tawaf Haji (menyelesaikan Haji), atau bermalam di Mina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).
  • 11 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  • 12 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  • Sebelum pulang ke negara masing-masing, jamaah melaksanakan Thawaf Wada’ (thawaf perpisahan).

Tak terkecuali apa yang dilakukan Yayasan Lembaga Pendidikan An Noor yang berada di Desa Karangasri Ngawi, Jawa Timur. Sudah menjadi kewajiban bagi yayasan ini untuk memberi pembelajaran terhadap anak didiknya. Yayasan yang merambah di dunia pendidikan mulai tingkat RA – MTs dengan jumlah siswa tak kurang dari 300 anak ini, Kamis (03/11), sedang mempratekkan bagaimana tata cara beribadah haji (manasik haji).

Sebanyak 200 siswa dari tingkat MI dan MTs dibimbing 8 guru pengasuh tentang bagaimana tata laksana berhaji. Miniatur Ka’bah, bukit Shafa dan Marwah, Masjidil Haram dan seterusnya. Para siswa dengan seksama memperhatikan apa yang menjadi petunjuk dalam manasik ini. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan keimanan sekaligus mengenalkan rukun Islam yang ke lima pada anak didiknya..

Menurut Kepala MI An Noor, Ismuni,S.Ag, peragaan ibadah haji ini sama dengan pelaksanaan bila naik haji sungguhan. “Semuanya sesuai dengan tata laksana berhaji, penting kita kenalkan dan kita tanamkan pada siswa. Kegiatan ini rutin kami laksanakan tiap tahun, Rabu kemarin (02/11) kelas tingkat RA diikuti 500 siswa yang didampingi bersama wali / orang tuanya,” terang Ismuni di kantornya. (mit)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Weboy

_____